Minggu, 08 Januari 2012

Materi Sosiologi XII IPS 02



SOCIAL INSTITUTION (Lembaga Kemasyarakatan)

1.    PENGERTIAN
Dari Segi bahasa, Lembaga Sosial memiliki arti tunas, bakal, asal mula, bagi tumbuhnya kelompok sosial atau organisasi di masyarakat.
Defenisi Lembaga Sosial adalah :
a.    Deretan peran sosial yang membentuk pola tingkah laku yang mapan disertai struktur sosial dan sistem peraturan untuk memenuhi kebutuhan pokok bagi kelangsungan hidup masyarakat.
b.    Himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat.

Pada umumnya lembaga sosial mengandung beberapa unsur, yaitu :
a.    Sistem peraturan yang kompleks, adat kebiasaan.
b.    Peranan sosial yang menentukan tingkah laku.
c.    Pola tingkah laku sosial.
d.    Struktur sosial dalam konteks nilai yang relevan.
e.    Mempertahankan nilai-nilai.
f.     Mengatur hubungan sosial.
g.    Memenuhi kebutuhan pokok.

Supaya hubungan antar manusia di dalam suatu masyarakat terlaksana, maka diciptakanlah norma-norma, yang mempunyai kekuatan yang berbeda-beda. Untuk dapat membedakan kekuatan mengikat norma-norma tersebut dikenal empat pengertian :
a.    Usage (cara) menunjuk pada suatu bentuk perbuatan.
b.    Folkways (kebiasaan) adalah perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama
c.    Mores (tata kelakuan) kebiasaan kebiasaan yang dianggap sebagai cara berperilaku dan diterima norma-norma pengatur.
d.    Custom (adat istiadat) adalah tata kelakuan yang kekal serta kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat.

2.    PROSES PEMBENTUKAN LEMBAGA SOSIAL
Terbentuknya lembaga sosial melalui proses berikut ini :
a.    Institutionalized yaitu proses suatu norma menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehingga dikenal, dihargai, ditaati, dan diakui.
Dengan kata lain proses institusionalisasi adalah proses pelembagaan, yaitu proses yang dilewati nilai dan norma yang baru untuk menjadi bagian dari salah satu lembaga sosial.
b.    Internalized (internalisasi) yaitu proses penyerapan norma-norma oleh masyarakat sehingga norma-norma tersebut mendarah daging, sebagai pedoman cara berpikir, bersikap, dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.

3.    TIPE LEMBAGA KEMASYARAKATAN (PRANATA SOSIAL)
Tipe pranata sosial menurut Gillin dan Gillin adalah sebagai berikut :
a.    Dari sudut perkembangannya :
1)   Crescive institution, merupakan pranata sosial yang tidak disengaja tumbuh dari adat istiadat. Contoh : pranata hak milik, perkawinan, dsb.
2)   Enacted Institution,  merupakan pranata sosial yang disengaja dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu. Contoh : pranata utang piutang dan pranata pendidikan.
b.    Dari sudut sistem nilai yang diterima oleh masyarakat :
1)   Basic Institution merupakan pranata sosial yang penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat, misalnya keluarga, sekolah, negara, dsb.
2)   Subsidiary Institution  merupakan pranata sosial yang berkaitan dengan hal-hal yang dianggap oleh masyarakat kurang penting, misalnya rekreasi.
c.    Dari sudut penerimaan masyarakat :
1)   Approved atau sanctioned institution  yaitu pranata sosial yang diterima oleh masyarakat, misalnya sekolah, perusahaan, dagang, dsb.
2)   Unsactioned institutioned  yaitu pranata sosial yang ditolak oleh masyarakat meskipun masyarakat tidak mampu memberantasnya, misalnya kelompok pemeras, penjahat, pencoleng, dsb.
d.    Dari sudut penyebarannya :
1)   General Institutions yaitu pranata sosial yang dikenal oleh sebagian besar masyarakat dunia, misalnya pranata agama.
2)   Restructed Institutions  yaitu pranata sosial yang hanya dikenal oleh masyarakat tertentu saja, misalnya pranata agama Islam, pranata agama Katolik, pranata agama Kristen, pranata agama, Hindu, pranata agama Budha, pranata agama Kong Hu Chu.
e.    Dari sudut fungsinya :
1)   Operative Institutions  yaitu pranata sosial yang berfungsi menghimpun pola-pola atau tata cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan masyarakat yang bersangkutan, misalnya pranata industri.
2)   Regulative Institutions  yaitu pranata sosial yang bertujuan mengawasi adat istiadat atau tata kelakuan yang ada dalam masyarakat, misalnya pranata-pranata hukum seperti kejaksaan, pengadilan, dsb.

4.    CIRI-CIRI PENTING LEMBAGA SOSIAL
Pada dasarnya ada enam ciri-ciri penting dari lembaga sosial, antara lain :
1)   Pemuasan kebutuhan-kebutuhan tertentu.
Misalnya : pengaturan jumlah anak bagi keluarga, pembentukan kepribadian anak, dsb.
2)   Penghormatan terhadap nilai-nilai luhur yang diyakini anggota kelompok dan masyarakat.
Misalnya : bergotong royong dalam anggota keluarga dan masyarakat untuk menyelesaikan atau mengatasi permasalahan demi tujuan hidup bersama yang adil dan tenteram.
3)   Pola tingkah laku bersifat tetap atau permanen dan merupakan bagian dari warisan tradisi dari budaya tertentu.
Misalnya : tradisi pemakaman orang yang telah meninggal dalam tradisi budaya Bugis, peringatan 7 hari sampai 1000 hari.
4)   Landasan lembaga sosial cukup luas dan kegiatan-kegiatannya sentral, memiliki pengaruh yang luas,  sehingga perubahan dalam suatu lembaga berpengaruh pada perubahan lembaga lain dan kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Contohnya, angka perceraian yang tinggi di suatu masyarakat, mempengaruhi ekonomi keluarga, pendidikan anak, melemahnya pandangan hidup berkeluarga, dll.
5)    Tiap lembaga sosial terbentuk dan diatur sesuai dengan norma, nilai dan tingkah laku yang diidealkan.
Contohnya, lembaga-lembaga pemerintah terbentuk dalam susunan birokrasi  yang tujuannya jelas dan tegas. Tugasnya mengutamakan pelayanan pada masyarakat demi tercapainya kesejahteraan sosial yang adil. Tugas-tugas itu diatur dengan norma (aturan) agar tingkah laku dan peranan pegawai benar-benar berjalan untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
6)    Cita-cita luhur sebuah lembaga sosial umumnya diterima baik oleh anggota masyarakat , tanpa atau dengan keterlibatan mereka dalam kegiatan di masyarakat.
Contohnya, keluarga Jawa yang hidup sejahtera pembentukannya wajib mempertimbangkan bibit, bebet, dan bobot. Sekalipun tidak semua keluarga Jawa dibentuk mendasarkan prinsip tersebut, namun mereka tetap menghormatinya.

5.    ASOSIASI
Asosiasi secara umum memiliki padanan arti kata dengan erkumpulan, himpunan, persatuan, ikatan, dsb. Ciri dan fungusi pokok pada asosiasi memilki kesamaan dengan yang ada di lembaga sosial.
Asosiasi lebih bersifat khusus, sedangkan lembaga sosial bersifat umum, abstrak, dan konsepsional.
Asosiasi merupakan kelompok formal yang terorganisir untuk mencapai tujuan khusus dan tertentu (spesifik dan spesialistik) yang memeilki aturan dan prosedur hukum, sistem kepemimpinan formal dan memiliki kepentingan bersama tertentu yang disepakati para anggotanya.
Contoh : APINDO, PSSI, ISI (Ikatan Sosiologi Indonesia), PGRI, dll.

6.    FUNGSI UMUM LEMBAGA SOSIAL
A.   Memberikan pedoman kepada anggota-anggota masyarakat tentang bagaimana mereka harus bersikap atau berperilaku dalam menghadapi masalah-masalah di dalam masyarakat terutama menyangkut kebutuhan dari yang bersangkutan.
B.    Menjaga kebutuhan dari masyarakat yang bersangkutan.
C.   Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial (social control). Maksudnya mengadakan sistem pengawasan dari masyarakat terhadap perilaku anggotanya.

7.    FUNGSI KHUSUS LEMBAGA SOSIAL
a.    Lembaga Keluarga
1)    Pengaturan tingkah laku seksual.
2)   Reproduksi mengembangkan keturunan.
3)   Memelihara dan melindungi anak dan orang tua.
4)   Sosialisasi peranan, pendidikan anak (edukatif), dan religius.
5)   Mewariskan norma dan nilai.
6)   Mengembangkan ekonomi rumah tangga.

b.    Lembaga Pendidikan
1)   Menyiapkan kedudukan dan peranan (anak).
2)   Melayani pengalihan-pewarisan nilai budaya.
3)   Mengenalkan berbagai peranan pada anak
4)   Menyiapkan peranan sosial yang diharapkan.
5)   Memberikan penilaian dan pemahaman tentang kedudukan.
6)   Menguatkan penyesuaian dan perbaikan hubungan sosial.

c.    Lembaga Agama
1)   Membantu menemukan identitas moral.
2)   Memberikan penafsiran untuk membantu menjelaskan lingkungan fisik sosial.
3)   Mengembangkan kebersamaan dan solidaritas sosial.

d.    Lembaga Ekonomi
1)   Memproduksi dan menghasilkan barang dan jasa.
2)   Mendistribusi barang dan jasa.
3)   Mengkonsumsi  kebutuhan barang dan menggunakan layanan jasa.

e.    Lembaga Politik
1)   Pelembagaan norma.
2)   Penegakan aturan.
3)   Penyelesaian konflik.
4)   Penguatan layanan kepada masyarakat.
5)   Perlindungan rakyat (warga negara) dari serangan pihak luar dan situasi yang membahayakan.