Jumat, 14 November 2014

Asal Mula Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, “Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia” (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel “On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations”. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (“a distinctive name”), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: “Indunesia” atau “Malayunesia” (“nesos” dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: “… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.”

Earl sendiri menyatakan memilih nama “Malayunesia” (Kepulauan Melayu) daripada “Indunesia” (Kepulauan Hindia), sebab “Malayunesia” sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan “Indunesia” bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah “Malayunesia” dan tidak memakai istilah “Indunesia.”
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel “The Ethnology of the Indian Archipelago.” Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama “Indunesia” yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: “Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago.” Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku “Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel” sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam “Encyclopedie van Nederlandsch- Indie” tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama “Indonesische Pers-bureau.”

Makna Politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa “Handels Hoogeschool” (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama “Indische Vereeniging”) berubah nama menjadi “Indonesische Vereeniging” atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (“de toekomstige vrije Indonesische staat”) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (“een politiek doel”), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (“ Indonesier”) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan “Indonesische Studie Club” pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 “Jong Islamieten Bond” membentuk kepanduan “Nationaal Indonesische Padvinderij” (Natipij) . Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota “Volksraad” (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch-Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.
Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.

Senin, 17 Maret 2014

Adanya Sensasi Aneh yang Terjadi dalam Tubuh Kita

Orang mungkin sering mengalami hal-hal aneh dalam hidupnya. Tapi mungkin Anda tidak menyadari bahwa tubuh manusia pun sering mengalami kejadian dan sensasi yang aneh. Apa saja sensasi aneh dalam tubuh manusia?

Seperti dilansir dari Health24, Selasa (18/5/2010), berikut lima sensasi aneh yang terjadi pada tubuh manusia:

1. Mengapa ‘cinta membuat kepala ingin selalu berada di lemari es’?

‘Cinta adalah kimia’, seperti dikutip dari karya musisi terkenal Lou Reed.

Pada dasarnya, pada saat Anda melakukan hubungan intim, maka otot akan lebih banyak bekerja. Tubuh akan membakar banyak energi dengan mengoksidasi gula darah. Setelah itu, gula darah menjadi rendah dan membuat Anda lapar. Hal ini yang memunculkan istilah ‘cinta membuat kepala ingin selalu berada di lemari es’.

2. Mengapa perut menimbulkan suara?

Sistem digestivus atau pencernaan memiliki sistem persarafan sendiri yang disebut sistem saraf enterik. Sistem ini seluruhnya terletak di dinding usus, mulai dari esophagus dan memanjang sampai ke anus.

Sistem saraf enterik ini bersifat sangat penting terutama dalam mengatur fungsi pergerakan dan sekresi gastrointestinal.

Saraf-saraf sensorik dapat mengadakan reflek-reflek lokal di dalam dinding usus itu sendiri.

Bila Anda gugup atau terangsang, perut akan mengeluarkan suara-suara. Hal ini karena sistem saraf enterik memberitahu sistem pencernaan Anda untuk bertindak dan agresif, sehingga suara-suara pun muncul.

3. Mengapa orang menguap ketika sedang olahraga?

Orang sering menguap, terutama pada saat merasa lelah atau mengantuk. Tapi Anda juga bisa menguap pada saat atau setelah berolahraga.

Menguap adalah peregangan, dan peregangan mempersiapkan tubuh untuk bertindak. Manguap dapat meningkatkan denyut nadi, seperti halnya tekanan darah dan aliran darah ke otot dan bagian tubuh lainnya.

Menguap juga meningkatkan fleksibilitas otot dan sendi. Inilah yang menyebabkan orang menguap pada saat dan setelah berolahraga.

Menguap juga bisa diartikan bahwa tubuh kekurangan oksigen. Biasanya orang yang mengantuk saat sedang beraktivitas dan berolahraga akan menarik napas dalam-dalam atau minum banyak

air, untuk menyuplai oksigen kembali dalam darah.

4. Mengapa anggota badan kesemutan?

Mungkin orang berpikir anggota tubuh akan kesemutan atau mati rasa karena kepala kekasih Anda sedang bersandar di lengan Anda. Tapi itu hanyalah pemikiran yang konyol.

Kesemutan atau parestesia adalah sensasi yang terjadi ketika saraf mengalami tekanan, sehingga aliran darah tidak mengalir dengan baik. Ketika tekanan dibebaskan, maka akan ada sensasi ketika tekanan darah kembali normal, inilah yang sering disebut kesemutan.

5. Mengapa serasa ada suara nyamuk dalam kepala?

Hal ini disebut tinnitus, istilah untuk beberapa kondisi yang menghasilkan serangkaian suara desah, dering atau jenis suara yang tampaknya berasal di telinga atau kepala.

Dalam banyak kasus itu bukan masalah serius, tetapi lebih merupakan gangguan yang akhirnya reda dengan sendirinya.

Ini bukan penyakit tunggal, tetapi merupakan gejala dari kondisi lain yang mendasari.

Salah satu penyebab paling umum dari tinnitus adalah kerusakan pada akhir mikroskopik dari saraf pendengaran di telinga dalam. Saat ini, paparan suara keras seperti senjata api dan musik intensitas tinggi sangat umum menyebabkan tinnitus, dan sering merusak pendengaran juga.